Studi Klinik Efek Ramuan Jamu untuk Insomnia terhadap Fungsi Hati Pasien Klinik Hortus Medicus

  • Widhi Astana Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, Tawangmangu Karanganyar, Jawa Tengah, Indonesia
  • Agus Triyono Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, Tawangmangu Karanganyar, Jawa Tengah, Indonesia
Keywords: insomnia, ramuan jamu, fungsi hati

Abstract

Hati merupakan organ penting dalam tubuh manusia. Organ ini merupakan pusat metabolisme, salah satunya adalah metabolisme obat. Pengobatan konvensional yang menggunakan bahan kimia dapat menimbulkan perubahan pada fungsi hati. Sedangkan pada pengobatan tradisional, efek pengobatan pada fungsi hati masih jarang dipublikasikan. Salah satu penggunaan obat tradisional adalah jamu sebagai sedatif.  Sebuah penelitian diadakan di Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) tahun 2013 untuk mengetahui perubahan terhadap fungsi hati pasien-pasien yang mendapatkan terapi ramuan jamu insomnia. Penelitian berupa  observasi  terhadap 30 pasien insomnia yang datang dan berobat di Klinik Saintifikasi Jamu Hortus Medicus. Pasien insomnia yang mendapat terapi ramuan jamu selama 14 hari diobservasi fungsi hatinya. Evaluasi dilakukan pada nilai laboratoris yang merepresentasikan fungsi hati (SGOT dan SGPT) pada hari ke-0 dan hari ke-14. Perbandingan hasil pemeriksaan sebelum dan sesudah terapi menggambarkan perbedaan yang tidak bermakna kadar SGOT dan SGPT subjek penelitian(p>0,05). Semua subjek memiliki nilai SGOT dan SGPT yang normal secara klinis dan laboratoris. Pemberian ramuan jamu untuk insomnia tidak mengganggu fungsi hati.

References

1. Almeida, S. M., C. S. Gama., N. Akamine. 2007. Prevalence and Calssification of drug-drug interaction in Intensive Care Patient. Einstein. 5(4):347-351.

2. Remmer, H. 1970. The role of the liver in drug metabolism.The American Journal of Medicine Volume 49, Pages 617–629.

3. Guyton & Hall. 1997. Aktivitas Otak-Tidur ; Gelombang Otak ; Epilepsy ; Psikosis. Dalam: Buku ajar fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta : EGC.

4. Célyne H Bastien, Annie Vallières, Charles M Morin, 2001, Validation of the Insomnia Severity Index as an outcome measure for insomnia research. Journal of Sleep Medicine. http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1389945700000654
accessed 14 agustus 2013

5. Kaplan, Sadock. Sinopsis psikiatri: ilmupengetahuan perilaku psikiatri khas. Jilid satu. Edisi 7. Alih Bahasa: Widjaja Kusuma. Jakarta: Bina Putra Aksara; 199

6. Tjay, T., H., dan Rahardja, 2002, Obat-Obat Penting, Khasiat, Penggunaan dan Efek-Efek Sampingnya , Edisi Kelima, Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan republik Indonesia, Jakarta.

7. Watanabe Taizo. 1995. Medical Herb Index in Indonesia. 2nd ed. Jakarta: PT. Eisai Indonesia.

8. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2011.Vademekum
Tanaman Obat. Jakarta: BadanLitbangkes. Kemenkes RI. Jakarta

9. Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan. 2000. Acuan Sediaan Herbal. Depkes RI, Jakarta

10. Mardisiswoyo, S, Harsono R. 1968. Cabe puyang warisan nenek moyang, PT. Karya Wreda, cetakan IL.

11. Astana, P,W. 2013. Clinical Study of Jamu Formula for Insomnia Treatment. Study Report. Medical Plant and Traditional Medicine Research and Development Center.

12. Ronald A. Sacher, Richard A. McPherson. 2004. Tinjauan Klinis
Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Jakarta. EGC
Published
2016-06-30
How to Cite
Astana, W., & Triyono, A. (2016). Studi Klinik Efek Ramuan Jamu untuk Insomnia terhadap Fungsi Hati Pasien Klinik Hortus Medicus. Jurnal Sains Dan Kesehatan, 1(5), 245-250. https://doi.org/10.25026/jsk.v1i5.46