Hubungan Praktik Pemberian Makanan dengan Kejadian Stunting pada Balita di Puskesmas Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat

Relationship Between Feeding Practice with The Incidence of Stunting in Toddlers at The Barong Tongkok Health Center, Kutai Barat Regency

Authors

  • Fadzilah Nur Qolbiyah Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman
  • Riries Choiru Pramulia Yudia Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman
  • Meiliati Aminyoto Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman

DOI:

https://doi.org/10.25026/jsk.v3i6.901

Keywords:

Stunting, Feeding Praktice, Toddlers

Abstract

Background: Stunting is a condition of failure to thrive in children under five due to chronic malnutrition. Growth problems at the beginning of life are caused by malnutrition, giving feeding practice too early or too late, and not appropriate with their age. Objective: This study aims to determine the relationship between feeding practice and the incidence of stunting in toddlers at the Barong Tongkok Health Center, Kutai Barat. Methods: This research design was observational analytic with case control method. Data obtained from questionnaires and medical record at the Barong Tongkok Health Center with purposive sampling technique obtained 32 cases and 32 controls. The bivariate analysis used chisquare test and fisher's exact test. Results: Data analysis statistically showed that there was no relationship between food frequency with p = 0.740 (p > 0.05) , the type of food with p= 1.000 (p > 0.05), the amount of food with p = 0,545 (p > 0.05), and the feeding practice with p = 1.000 (p> 0.05) with the incidence of stunting. Conclusion: There is no relationship between the frequency, type, amount, and feeding practice with the incidence of stunting.
Keywords: Stunting, Feeding Practice, Toddlers

References

[1] Utario, Y., & Sutriyanti, Y. (2020). Aplikasi Offline Stunting untuk meningkatkan Pengetahuan Kader Posyandu di Puskesmas Kabupaten Rejang Lebong. Jurnal Abdimas Kesehatan Perintis, 25-30.
[2] De Onis, M., Dewey, K. G., Borghi, E., Onyango, A. W., Blössner, M., Daelmans, B., & Branca, F. (2013). The World Health Organization's global target for reducing childhood stunting by 2025: rationale and proposed actions. Maternal & child nutrition, 9, 6-26.
[3] UNICEF. (2020, March). Malnutrition rates remain alarming: stunting is declining too slowly while wasting still impacts the lives of far too many young children. Retrieved November 10, 2020, from UNICEF.org: https://data.unicef.org/topic/nutrition/malnutrition/#
[4] Kementerian Kesehatan RI. (2018). Situasi Balita Pendek (Stunting) di Indonesia. Jakarta: Pusat Data dan Informasi.
[5] Riskesdas. (2018). Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas Tahun 2018). Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI.
[6] Sriwahyuni, S., & Khairunnas, K. (2020). Sosialisasi Dampak Stunting Pada Balita Di Desa Pasie Jambu Kecematan Kawai IXV Kabupaten Aceh Barat. Jurnal Pengabdian Masyarakat: Darma Bakti Teuku Umar, 2(2), 227-235.
[7] Widanti, Y. A. (2016). Prevalensi, Faktor Risiko, dan Dampak Stunting pada Anak Usia Sekolah. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan , 23-28.
[8] Sastria, A., Hasnah, & Fadli. (2019). Faktor Kejadian Stunting pada Anak dan Balita. Jurnal Ilmiah Keperawatan Stikes Hang Tuah Surabaya, 100-108.
[9] UNICEF. (2016). Regional Report on Nutrition Security in ASEAN. Volume, 2.
[10]Hanum, N. H. (2019). Hubungan Tinggi Badan Ibu dan Riwayat Pemberian MP-ASI dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-59 Bulan. Amerta Nutrition, 3(2), 78-84.
[11]Virginia, A. (2019). Hubungan Pemberian MP-ASI dan Usia Pertama Pemberian MP-ASI dengan Kejadian Stunting Pada Anak Usia 6-24 Bulan Di Desa Leyangan Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten Semarang (Doctoral dissertation, Universitas Ngudi Waluyo).
[12]Nurkomala, S., Nuryanto, N., & Panunggal, B. (2018). Praktik Pemberian MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu) pada Anak Stunting dan Tidak Stunting Usia 6-24 Bulan (Doctoral dissertation, Diponegoro University).
[13] Anggraeni, E. M., Herawati, D. M. D., Rusmil, V. K., & Hafsah, T. (2020). Perbedaan status gizi bayi usia 6-9 bulan yang diberi MPASI buatan pabrik dan rumah. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 16(3), 106-113.
[14] Udoh, E. E., & Amodu, O. K. (2016). Complementary feeding practices among mothers and nutritional status of infants in Akpabuyo Area, Cross River State Nigeria. SpringerPlus, 5(1), 1-19.
[15] Prihutama, N. Y., Rahmadi, F. A., & Hardaningsih, G. (2018). Pemberian Makanan Pendamping ASI Dini Sebagai Faktor Risiko Kejadian Stunting pada Anak Usia 2-3 Tahun. Diponegoro Medical Journal (Jurnal Kedokteran Diponegoro), 7(2), 1419-1430.
[16] Subandra, Y., Zuhairini, Y., & Djais, J. (2018). Hubungan pemberian ASI eksklusif dan makanan pendamping ASI terhadap balita pendek usia 2 sampai 5 tahun di Kecamatan Jatinangor. Jurnal Sistem Kesehatan, 3(3).
[17] Virginia, A., Maryanto, S., & Anugrah, R. M. (2020). The Correlation Between Complementary Feeding and First Complementary Feeding Time With Stunting in Children of 6-24 Months in Leyangan Village, East Ungaran, Semarang Regency. Jurnal Gizi dan Kesehatan, 12(27), 89-98.
[18] Dewi, S., & Mu’minah, I. (2020). Pemberian MP-ASI tidak berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 1-3 tahun di wilayah kerja Puskesmas Sumbang I Kabupaten Banyumas. Infokes: Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan, 10(1), 5-10.
[19] Megawati, A., Wahyutri, E., & Syukur, N. A. (2018). Hubungan Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) dengan Status Gizi Bayi Usia 7-12 Bulan di Wilayah Puskesmas Sebulu 2 (Doctoral dissertation, Poltekkes Kaltim).
[20] Noviza, L. I. D. Y. A. (2014). Hubungan Konsumsi Zink Dan Vitamin A dengan Kejadian Stunted pada Anak Batita di Desa Rambai Kecamatan Pariaman Selatan Tahun 2014. Karya Tulis Ilmiah. Politeknik Kesehatan Kemenkes Padang.
[21] Umah, K. S. (2017). Analisis Permintaan Konsumsi Nutrisi di Pulau Sumatera Pada Tahun 2007-2015. Jurnal Universitas Islam Indonesia, 1-13.
[22] Fatimah, N. S. H., & Wirjatmadi, B. (2018). Tingkat Kecukupan Vitamin A, Seng dan Zat Besi serta Frekuensi Infeksi pada Balita Stunting dan Non Stunting [Adequacy Levels of Vitamin A, Zink, Iron, and Frequency of Infections among Stunting and Non Stunting Children Under Five]. Media Gizi Indonesia, 13(2), 168-175.
[23] Bahmat, D. O., Bahar, H., & Jus’at, I. (2010). Hubungan Asupan Seng, Vitamin A, Zat Besi dan Kejadian pada Balita (24-59 Bulan) dan Kejadian Stunting Di Kepulauan Nusa Tenggara (Riskesdas 2010). Jakarta: Universitas Esa Unggul.
[24] Sundari, E., & Nuryanto, N. (2016). Hubungan asupan protein, seng, zat besi, dan riwayat penyakit infeksi dengan z-score tb/u pada balita. Journal of Nutrition College, 5(4), 520-529

Downloads

Published

2021-12-31

How to Cite

Qolbiyah, F. N., Yudia, R. C. P., & Aminyoto, M. (2021). Hubungan Praktik Pemberian Makanan dengan Kejadian Stunting pada Balita di Puskesmas Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat: Relationship Between Feeding Practice with The Incidence of Stunting in Toddlers at The Barong Tongkok Health Center, Kutai Barat Regency. Jurnal Sains Dan Kesehatan, 3(6), 853–863. https://doi.org/10.25026/jsk.v3i6.901